Menu

Mode Gelap
Ultralight Hiking/Backpacking Untuk Pemula Fenomena Pendakian Gunung Tektok Jika Tak Ada Pendaki Gunung, Tak Mungkin Ada Freeport! Tualangi Samudera Dunia Seorang Diri Selama 210 Hari Diusia 16 Tahun Tim Gabungan Lakukan Penanganan Banjir dan Longsor di Luwu, Sulsel

Artikel · 1 Sep 2021 15:07 WIB ·

Dermolo Vegetasi langka di Cagar Alam Gunung Celering Jawa Tengah


 Foto: Desintamedy BKSDA Jateng (Upaya konservasi untuk mengembangbiakkan pohon Dermolo juga dibantu oleh masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Celering dengan cara menyemaikan bijinya,  Bibit Pohon Dermolo Yang sudah mulai langka ) Perbesar

Foto: Desintamedy BKSDA Jateng (Upaya konservasi untuk mengembangbiakkan pohon Dermolo juga dibantu oleh masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Celering dengan cara menyemaikan bijinya, Bibit Pohon Dermolo Yang sudah mulai langka )

Burangrang.com | Jepara,- Cagar Alam Gunung Celering (CAGC) merupakan  salah  satu  kawasan  konservasi  di  Jawa Tengah yang memiliki kekayaan sumber daya alam flora dan fauna yang beragam. Cagar alam tersebut secara administrasi pemerintahan  masuk wilayah Kabupaten  Jepara.  Nama  cagar  alam  tersebut  diambil  dari  nama  mata  air  yang  muncul  dari  perbukitan  dan  merupakan  hulu  dari  sungai  Celering, Ujungwatu,  Lempung,  Towo,  Kemunir,  Blumbang, Nglandep,  Mundoro,  dan  sungai-sungai  kecil  lainnya  (BKSDA  Jawa  Tengah,  2009).

Cagar  Alam Gunung Celering ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan RI Nomor 755/Kpts-II/1989, tanggal  16  Desember  1989,  dengan  luas  ±1.328,40 ha. Meskipun kawasan CAGC merupakan kawasan konservasi, namun potensi keragaman jenis pohon banyak mengalami penurunan, baik habitat maupun populasinya, disebabkan oleh bencana  alam  maupun  aktivitas  masyarakat  sekitar hutan  yang  memanfaatkan  sumber  daya  alam  tersebut  secara  tidak  berkelanjutan.

Foto: Desintamedy,  BKSDA Jateng ( Pohon Dermolo Yang sudah mulai langka )

Pada  dasawarsa terakhir ini tekanan pengaruh manusia terhadap ekosistem  hutan  di  kawasan  CAGC  semakin  meningkat seiring meningkatnya laju pengalihan fungsi  hutan  secara  ilegal  menjadi  lahan  pertanian dan perkebunan. Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan  Kabupaten  Jepara,  Jawa  Tengah,  menyatakan  bahwa  tingkat  kerusakan  kawasan  CAGC mencapai sekitar 30 persen dari luas kawasan tersebut  (Suara  Merdeka,  2007).

Pengalihan  fungsi hutan akibat penjarahan dan perambahan di kawasan  tersebut  telah  menurunkan  fungsi  hutan  sebagai penyangga sistem kehidupan. Kondisi hutan alam dataran rendah (hutan pamah)  pada  saat  ini  amat  kritis  karena  masyarakat di sekitar hutan, gangguan pada umumnya disebabkan oleh penggunaan lahan tanpa kontrol  yang  banyak  ditemui  di  bagian  dari  CAGC yang pada saat ini sudah mengarah kepada deforestasi.  Akibat  dari  gangguan  ini  adalah  tidak  terjadinya  proses  regenerasi  secara  normal  dan  terjadinya suksesi yang mengakibatkan pembentukan berbagai macam  vegetasi  sekunder.

Foto: Desintamedy BKSDA Jateng (Upaya konservasi untuk mengembangbiakkan pohon Dermolo juga dibantu oleh masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Celering dengan cara menyemaikan bijinya, Bibit Pohon Dermolo Yang sudah mulai langka )

Pada  umumnya hutan  hujan  tropik  dataran  rendah  kaya  akan  jenis,  pada kondisi primer merupakan ekosistem yang stabil.  Kestabilan  ekosistem  tersebut  dapat  berubah akibat berbagai gangguan hutan antara lain penebangan. Dinyatakan oleh Johns (1997) dan Whitmore (1984) bahwa pembalakan di hutan alam dapat  merusak  sampai  dengan  50%  jumlah  pohon dibanding dengan sebelumnya.

Contohnya saat ini bisa dilihat dari Pohon Dermolo yang sudah cukup langka, Bagi masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Celering, Kab. Jepara pohon ini memang sudah dianggap langka dan keberadaannya sangat dijaga.

Dermolo biasa kita kenal dengan nama Plalar (Dipterocarpus haseltii), di Jawa sendiri lebih familiar dengan sebutan Kruing. Pohon ini merupakan salah satu anggota kelas Dipterocarpaceae.

Keberadaan Dermolo di Cagar Alam Gunung Celering sudah sangat sulit ditemukan, dari hasil identifikasi petugas lapangan persebaran jenis Dermolo hanya ditemukan di 3 (tiga) tempat yaitu di Blok Jugo, Blok Jering, dan Blok Cobaan dengan populasi kurang dari 10 individu.

Foto: Desintamedy BKSDA Jateng ( Daun  Pohon Dermolo Yang sudah mulai langka )

Jenis ini sangat menyukai cahaya pada fase anakannya. Karena tutupan vegetasi di CA Gunung Celering sangat rapat, anakan dari pohon Dermolo ini sangat sulit untuk berkembang biak secara alami.

Upaya konservasi untuk mengembangbiakkan pohon Dermolo juga dibantu oleh masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Gunung Celering dengan cara menyemaikan bijinya, semoga dengan adanya kelangkaan ini masyarakat semakin sadar akan kelestraian lingkungan dan keseimbangan ekosistem dapat terjaga. Salam konservasi!

Sumber:  Buletin Plasma Nutfah Vol.20 No.1 Th.2014  dan  PEH Balai KSDA Jawa Tengah
Pewarta: And

 

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 280 kali

badge-check

Admin

Baca Lainnya

Ultralight Hiking/Backpacking Untuk Pemula

20 Mei 2022 - 14:04 WIB

Ultralight Backpacking

Fenomena Pendakian Gunung Tektok

19 Mei 2022 - 15:49 WIB

Naik Gunung

Jika Tak Ada Pendaki Gunung, Tak Mungkin Ada Freeport!

17 Mei 2022 - 17:00 WIB

Tualangi Samudera Dunia Seorang Diri Selama 210 Hari Diusia 16 Tahun

15 Mei 2022 - 11:00 WIB

Jejak Sejarah Gedung Lawang Sewu Semarang

6 April 2022 - 13:05 WIB

Mengenal Kota Singkawang, Kota Seribu Kelenteng

29 Maret 2022 - 13:03 WIB

Trending di Artikel