Menu

Mode Gelap
Ultralight Hiking/Backpacking Untuk Pemula Fenomena Pendakian Gunung Tektok Jika Tak Ada Pendaki Gunung, Tak Mungkin Ada Freeport! Tualangi Samudera Dunia Seorang Diri Selama 210 Hari Diusia 16 Tahun Tim Gabungan Lakukan Penanganan Banjir dan Longsor di Luwu, Sulsel

Feature · 4 Sep 2021 10:00 WIB ·

Deden Sang Pemburu Elang Liar, Kini Melestarikan Elang


 Foto: Taufik Hidayat ( Elang Jawa yang ada didalam kandang display pusat suaka satwa elang jawa Taman Nasional Gunung Halimun Salak ) Perbesar

Foto: Taufik Hidayat ( Elang Jawa yang ada didalam kandang display pusat suaka satwa elang jawa Taman Nasional Gunung Halimun Salak )

Burangrang.com | Bogor,-  Pelestarian satwa langka merupakan prioritas pemerintah Indonesia terkait ekosistem lingkungan. Dapat dimaklumi sebab keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia memang penting terkait koneksivitas manusia dan alam Indonesia. Kali ini kita akan mengunjungi  Suaka Satwa Elang Jawa yang berlokasi di Kampung Loji, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Sebagai sebuah upaya pelestarian Suaka Satwa Elang Jawa ini dibawah naungan Taman Nasional dan Konservasi SDA, Gunung Halimun Salak. Pada perkembangannya beragam fakta ditemui ketika peliputan dilakukan, program rehabilitasi merupakan kegiatan di suaka satwa ini. Kita berjumpa dengan keeper Elang, Kang Deden, yang merupakan pelestari Elang Jawa.

Foto: Taufik Hidayat ( Kang Deden Sang Keeper Elang )

Pada awal masa remajanya, Kang Deden merupakan sosok pemburu burung Elang yang mengikuti kegiatan orang tuanya yang merupakan pemburu sebagai salah satu mata pencariannya. Saat itu, ia tak memahami bahwa memburu Elang merupakan tindakan ilegal yang akan diberikan ganjaran hukuman apabila terbukti melakukan pemburuan. Kang Deden menjual hasil buruannya ke pasar untuk dipelihara oleh oknum yang membeli.

“Memburu Elang sudah sejak umur 14 tahun, ikut bapak saya. Dengan menggunakan galah mencari sarang burung Elang untuk ditangkap dan kemudian dijual. Harga pasaran hasil perburuan saat itu Rp 15.000,- dijual kepada pembeli. Saat itu saya belum memahami bahwa kegiatan memburu Elang merupakan ilegal dan dilarang. Belum tahu bahwa Elang itu satwa langka yang dilindungi negara. Tetapi sekarang sudah tahu dan Alhamdulillah ikut dalam pelestariannya,” ungkap Kang Deden.

Sebelum menjadi keeper burung Elang, ia menjalani proses pelestarian melalui beberapa yayasan dan ikut terlibat dalam proses observasi Elang. Bersama yayasan – yayasan tersebut, Kang Deden, mendapat edukasi bagaimana melakukan kegiatan penelitian terhadap ekosistem Elang Jawa hidup dan berkembang biak. Merupakan pengalaman yang mengesankan bagi dirinya, dan dari pengalaman inilah ia diberitahu bahwa burung Elang Jawa merupakan satwa yang dilindungi.

Foto: Taufik Hidayat ( Kang Deden sedang memberikan penjelasan mengenai elang yang ada di kandang display Pusat Suaka Satwa Elang Jawa )

“Pernah melakukan observasi selama beberapa bulan, dari mulai menemukan sarang Elang hingga proses perkembangbiakan alaminya. Saya diminta untuk memantau dan mencatat setiap perkembangannya, mulai dari bertelur, proses pengeraman sampai menetas menjadi anak – anak Elang. Saat observasi itu, saya menyaksikan bagaimana pasangan burung Elang itu berkembangbiak,” ujar Kang Deden.

Keeper burung Elang Jawa di kawasan Suaka Satwa Elang Jawa mengutarakan bahwa Elang jantan dan Elang betina saling bergantian menjaga sarang dan mencari mangsa. Ditemui fakta juga bahwa ternyata Elang jantan juga ikut mengeram telur. Saat sang jantan pergi terbang memangsa, sang betina mengeram telurnya, begitupula sebaliknya.

“Proses bertelur sampai menetas dijalani oleh pasangan Elang selama tiga bulan. Selama proses itu terjadi Elang jantan dan betina bergantian menjaga sarang dan telur mereka sampai saat menetas telurnya. Tak berhenti sampai disitu, ketika anak – anak Elang masih berusia dini, Elang jantan dan betina pun juga bergantian menjaga sarang dan memberikan makanan kepada anak – anak Elang,” tutur Kang Deden.

Ia mengatakan, dari masa menetas hingga masa belajar terbang dijalani selama setahun oleh induk Elang tersebut. Sambil memberikan makanan kepada anak Elang, induknya pun mengajarkan terbang dengan melompat – lompat di sekitar sarang. Dari dahan ke dahan anak Elang belajar terbang yang kemudian teritorinya berkembang semakin jauh.

Foto: Taufik Hidayat ( kandang display yang ada di pusat suaka satwa elang jawa yang ada di Taman Nasional Gunung Halimun Salak)

“Masa dewasa anak Elang adalah ketika sudah sampai umur 3 tahun bagi jantan dan 3 atau 4 tahun bagi Elang betina. Ketika sudah memasuki masa dewasa inilah, anak Elang sudah mulai mencari mangsanya sendiri. Dan apabila sudah memasuki umur ke 7 tahun maka daya jelajahnya pun semakin luas, rerata luas wilayahnya adalah 2.000 Hektare,” imbuhnya.

Kang Deden menyampaikan bahwa burung Elang juga memiliki predator di ekosistem kehidupannya. Sesama Elang bisa saling berebut wilayah antara sesama jenis Elang atau yang berbeda jenis Elang. Pada proses pertikaiannya ada saat dimana Elang – Elang ini bertarung di udara sambil terbang untuk menguasai suatu wilayah.

“Elang juga memiliki predator alamiahnya, yang adalah sesama Elang, baik yang sejenis maupun yang berbeda jenis. Mereka mempertarungkan wilayah dan beberapa kali dapat disaksikan sesama Elang bertikainya di udara sambil terbang. Inilah peristiwa seleksi alam bagi burung Elang Jawa yang aslinya satwa liar yang dilindungi negara,” katanya.

Di Suaka Satwa Elang Jawa ini juga ada yang dipasangkan. Jadi rehabilitasi yang dilakukan adalah yang tadinya makannya tak sesuai habitatnya yang liar, kembali menjadi pemangsa karnivora. Dan di suaka inipun dari proses pasangan Elang yang dijodohkan telah menghasilkan satu Elang yang lahir di suaka ini. Serta sudah melepasliarkan beberapa Elang Jawa sampai ke Jawa Timur dan ada satu diantaranya yang dilepasliarkan langsung oleh Presiden RI, Joko Widodo.

“Betul, bahwa rehabilitasi yang kita lakukan di suaka adalah pola makan dan pola hidupnya. Beberapa diantaranya yang tadinya jinak dan makan pur, kembali menjadi liar dan kembali makan daging. Proses konsumsi mangsanya pun bertahap dan dibutuhkan ketekunan tersendiri. Sudah ada sekitar 40 Elang Jawa yang dilepasliarkan, beberapa waktu yang lalu ada yang sampai dikirim ke Jawa Timur. Bahkan di suaka ini juga ada proses pengembangbiakan atau breeding yang telah melahirkan satu Elang Jawa yang asli terlahir di suaka ini. Ada juga Elang Jawa yang dilepasliarkan langsung oleh Presiden Joko Widodo,” pungkasnya.

 

Pewarta :Feb
Editor : DJ

untuk lebih lengkapnya bisa di tonton di link berikut :

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 73 kali

badge-check

Admin

Baca Lainnya

Sail Tidore 2022 Akan Dimeriahkan Puluhan Penerjun TNI AL

24 Mei 2022 - 10:00 WIB

Sail Tidore 2022

Menyoroti Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai

20 Mei 2022 - 19:26 WIB

Kepala BNPB Dorong Percepatan Perbaikan Rumah Terdampak Siklon Tropis Seroja NTT

13 Mei 2022 - 13:34 WIB

Delegasi G20 Sepakat Pembiayaan Internasional Dukung Penciptaan Iklim Pariwisata Berkelanjutan

13 Mei 2022 - 13:17 WIB

Indonesia Dominasi Piala Dunia Panjat Tebing Hingga Pecahkan Rekor Dunia Tercepat

13 Mei 2022 - 11:45 WIB

Pemkot Jaksel Konversi Ruang Publik Jadi Etalase Pelaku Ekraf Seni Rupa

13 Mei 2022 - 11:33 WIB

Trending di Kabar